Luwu Timur, Chaneltipikor.com – Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan kabar gempur terkait dugaan aksi penculikan anak di wilayah Kabupaten Luwu Timur, Jumat (21/8/2026). Informasi yang merebak luas sejak Jumat siang tersebut memicu kepanikan warga, sebelum akhirnya aparat kepolisian turun tangan dan meluruskan fakta sebenarnya.
Insiden bermula di Desa Bawalipu, Kecamatan Wotu. Seorang bocah bernama Masding yang tengah asyik bermain mendadak menghilang usai diajak pergi oleh seorang remaja perempuan yang mengendarai sepeda motor. Rekan sebaya korban yang melihat kejadian itu langsung melapor kepada orang tua Masding, yang seketika menyulut kepanikan keluarga dan warga sekitar.
Pencarian pun dilakukan. Bersenjatakan informasi awal dari rekan korban, pihak keluarga bersama warga menyisir area lingkungan hingga meluas ke desa-desa tetangga. Namun, upaya pencarian mandiri tersebut sempat tidak membuahkan hasil.
“Teman mainnya bilang ada perempuan naik motor yang membawa dia pergi. Kami langsung keliling mencari ke mana-mana tapi tidak ketemu,” ungkap salah seorang warga yang ikut dalam proses pencarian.
Menerima laporan darurat dari masyarakat, personel Polsek Wotu bergerak cepat menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP) sekitar pukul 11.30 WITA. Tak lama setelah kepolisian tiba di lokasi, remaja perempuan tersebut mendadak kembali dan mengantarkan Masding pulang dalam kondisi selamat usai diajak berkeliling.
Petugas langsung mengamankan remaja perempuan berinisial SR (15), warga Desa Tarengge, Kecamatan Wotu, ke Mapolsek Wotu untuk dimintai keterangan. Kepada polisi, SR mengaku tidak berniat menculik, melainkan hanya mengajak korban menemaninya mencari sang kekasih.
“Alasannya hanya mengajak anak tersebut keliling naik sepeda motor untuk mencari pacarnya,” terang salah satu personel Polsek Wotu.
Kondisi Psikologis Pelaku dan Mediasi Kekeluargaan
Penyelidikan mendalam terkuak saat Polsek Wotu memanggil orang tua SR. Berdasarkan keterangan keluarga, SR diketahui mengidap keterbelakangan mental yang dipicu oleh trauma masa lalu akibat pernah menjadi korban pelecehan seksual.
“Anak saya mengalami keterbelakangan mental karena pernah menjadi korban pelecehan,” tutur orang tua SR di hadapan petugas seraya menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada keluarga korban.
Memahami kondisi khusus pelaku, pihak Polsek Wotu segera memfasilitasi proses mediasi antara keluarga SR dan orang tua Masding. Pertemuan tersebut berakhir damai tanpa dilanjutkan ke jalur hukum. Kedua belah pihak sepakat saling memaafkan dan menganggap persoalan telah selesai secara kekeluargaan.
Menutup insiden tersebut, pihak kepolisian bersama kedua keluarga mengimbau seluruh lapisan masyarakat agar bijak dalam mengkonsumsi serta menyebarkan informasi. Warga diminta menghentikan penyebaran narasi penculikan anak di media sosial guna mencegah kepanikan publik yang berlebihan. (Syam)












