Dampak Kebakaran Lahan di Luwu Timur, Kawanan Satwa Liar Mulai Terlihat Masuk Perkebunan Warga

Luwu Timur, Chaneltipikor.com – Dampak kerusakan ekosistem pasca-kebakaran hebat di kawasan Padang Desa Bantilang, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, kini mulai memicu perubahan perilaku pada satwa liar setempat. Diduga kehilangan sumber pakan dan ruang hidup, kawanan rusa hutan dilaporkan mulai bermigrasi dan mendekati area aktivitas pertanian milik warga.

Fenomena migrasi satwa ini terkonfirmasi setelah sebuah dokumentasi warga memperlihatkan momen langka: seekor induk rusa beserta anaknya tengah meminum air di aliran sungai kecil yang berbatasan langsung dengan kebun masyarakat pada Senin (12/10/2026).

Menurut analisis warga setempat, amukan si jago merah yang menghanguskan sebagian besar vegetasi di padang sabana desa menjadi penyebab utama satwa-satwa dilindungi ini keluar dari habitat aslinya. Mereka terpaksa turun gunung demi mempertahankan hidup di tengah krisis ketersediaan pangan dan air bersih.

Salah seorang petani setempat, Doris, mengungkapkan bahwa dirinya menyaksikan langsung pergerakan satwa herbivora tersebut sewaktu sedang menggarap ladangnya di pagi hari. Berdasarkan pengamatan visualnya, gerombolan rusa hutan yang muncul ke permukaan tanah garapan jumlahnya diperkirakan mencapai enam ekor.

“Mereka muncul persis di area belakang perkebunan, tidak jauh dari pondok tempat saya biasa beristirahat. Jelas sekali itu kawanan rusa liar dari dalam hutan,” kata Doris.

Doris melanjutkan, perjumpaan mendadak tersebut sempat memicu kepanikan singkat. Insting liar satwa yang sangat sensitif terhadap kehadiran manusia membuat kawanan tersebut langsung berhamburan menyelamatkan diri begitu dicoba untuk didekati.

“Ketika saya melangkah mendekat, kawanan rusa itu langsung waspada. Begitu saya coba kejar, mereka bergerak sangat cepat dan langsung menghilang ke dalam rimbunan semak,” tuturnya lagi.

Kemunculan mamalia hutan ini dipandang sebagai sinyal darurat mengenai kondisi lingkungan pasca-kebakaran lahan. Banyak pihak khawatir apabila pemulihan ekosistem hutan dan padang memakan waktu lama, intensitas konflik ruang antara manusia dan satwa liar di wilayah lingkar Towuti berpotensi terus meningkat.

“Sangat memprihatinkan, sepertinya di dalam habitat aslinya sudah tidak ada lagi makanan yang tersisa buat mereka. Rasa iba tentu ada karena mereka sampai terpaksa mencari makan dan sumber air hingga ke batas kebun luar seperti ini,” pungkas Doris dengan nada cemas. (Syam)