StC dan SCF bersama Pemda Luwu Timur Gelar Workshop Penerapan GALS, Peserta Berubah 100% dalam Pengelolaan Konflik Rumah Tangga

Luwu Timur, Chaneltipikor.com – Save the Children dan Sulawesi Cipta Forum bersama dengan pemerintah Daerah Luwu Timur menggelar Workshop Pembelajaran Penerapan Gender Action Learning System (GALS) yang bertempat di Aula Wisma Golden, Malili. Jumat (28/11/2025).

Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan pembelajaran penerapan Gender Action Learning System (GALS). Pendekatan GALS adalah metodologi berbasis masyarakat yang menggunakan proses partisipatif untuk membantu individu, pasangan, dan komunitas menganalisis dan mentransformasi ketidaksetaraan gender dalam kehidupan dan rumah tangga mereka.

Selain Pemerintah desa dan pasangan-pasangan yang menjadi champion GALS, hadir juga DP3AP2AKB Provinsi Sulawesi Selatan, serta OPD dari Kabupaten Luwu Timur seperti DPMD, Dinsos P3A, Dinas Dalduk KB, dan Bapperida.

Dalam sambutan pembukaannya, perwakilan dari Bapperida, Kamrul menyampaikan bahwa pendekatan GALS sangat selaras dengan slogan Luwu Timur Maju dan Sejahtera.

“Dengan adanya champion-champion GALS ini harapannya ke depan selain mendukung pengurangan kekerasan pada anak dan perempuan juga memastikan keluarga menjadi lebih sejahtera, bukan saja pada keluarga-keluarga yang dilatih, tetapi juga ditularkan pada semua keluarga yang ada di Luwu Timur,” ujarnya.

Dalam overviewnya, perwakilan dari Save the Children, Nurma Nengsih mempresentasikan hasil monitoring, evaluasi serta coaching bagi pasangan-pasangan peserta diseminasi GALS. Hasil dari monitoring yang dilakukan dalam waktu 6-9 bulan menunjukkan adanya perubahan-perubahan yang nyata dari pasangan-pasangan, baik dalam pengambilan keputusan dalam pengelolaan kebun, pengelolaan keuangan dan asset keluarga, pembagian kerja domestic , pembagian peran pengasuhan anak, maupun management konflik.

“Bahkan 100% pasangan mengaku dapat menyelesaikan konflik dengan tenang dan saling menghormati,” tambahnya.

Dalam workshop ini para peserta menyampaikan perubahan-perubahan yang mereka alami setelah mengikuti kegiatan GALS dan dimonitoring intensif.

“Perubahannya luarbiasa, sebelumnya saya paling malas mencuci piring dan tidak pernah menjemur pakaian. Setelah mengikuti diseminasi GALS, saya jadi menyadari bahwa selama ini saya mendzalimi istri saya karena saya membebankan semua pekerjaan domestik ke istri, padahal istri juga sama-sama mempunyai banyak aktifitas,” ujar Anwar, Kepala Desa Tarengge yang merupakan salah satu pasangan yang menjadi peserta diseminasi GALS.

Dalam pelaksanaannya, diseminasi GALS dilakukan dalam tiga kali pertemuan dan kemudian selama 9 bulan, pasangan-pasangan dimonitoring perkembangannya serta mendapatkan coaching selama kontinyu.

“Program ini bisa sekali untuk diadopsi menjadi program desa,” lanjut Kepala Desa Tarengge.

Sementara Kurnia dan Dede Tarman pasangan suami istri dari Cendana Hijau yang juga menjadi peserta diseminasi GALS menyampaikan banyaknya perubahan yang terjadi dalam rumah tangga mereka.

“Alhamdulillah banyak perubahan yang terjadi di keluarga saya. Karena saya juga mengikuti kelas pengasuhan yang dilakukan PATBM, alhamdulillah banyak sekali pelajaran yang saya dapat dalam pengasuhan anak. Sebelumnya saya pikir Tindakan saya untuk selalu mengabulkan permintaan anak itu sudah benar, ternyata itu bukan bagian dari disiplin positif. Saya juga bergabung di VSLA (Village Saving and Loan Association) yang pembentukan di desa dibantu oleh teman-teman Save the Children dan SCF,” jelasnya.

“Di VSLA selain saya belajar mengelola keuangan, saya juga belajar soal pengambilan keputusan. Dalam praktik berkebun (Good Agriculture Practice atau GAP) karena tidak tahu, dulu saya juga biasa menyemprot dengan pestisida, setelah belajar GAP saya langsung berhenti menyemprot karena saya sadar terkait bahayanya. Terkait GALS, dalam keluarga saya sebelumnya jarang sekali punya quality time dengan keluarga, tapi belum lama ini kami mencoba melakukannya dengan makan di luar bersama keluarga, dan anak-anak sangat bahagia,” tutupnya.

Saat ini pendekatan GALS masih dikembangkan dalam ranah rumah tangga. Secara bertahap pendekatan ini didorong untuk berkembang ke ranah kelompok, komunitas desa serta kebijakaan. Pada akhirnya, GALS diharapkan mampu memperkuat perlindungan anak, pemberdayaan perempuan, penguatan ekonomi keluarga, serta tata kelola desa yang lebih responsif gender dan inklusif. (***)