Luwu Timur, Chaneltipikor.com – Camat Tomoni Timur, Yulius menghadiri kegiatan Amaliah Ramadhan di SMA Negeri 10 Luwu Timur, Kamis (26/2/2026). Kegiatan ini dirangkaikan dengan program BRUS (Bimbingan Remaja Usia Sekolah) yang digagas oleh Kantor Urusan Agama Kecamatan Tomoni Timur mengusung tema “Remaja Hebat, Siap Masa Depan Cerah”.
Dalam sambutannya, Camat Yulius menekankan pentingnya pembinaan karakter generasi muda melalui pendekatan spiritual dan moral yang terarah. Menurutnya, bulan suci Ramadhan menjadi momentum strategis untuk memperkuat nilai-nilai keimanan, kedisiplinan, serta tanggung jawab sosial di kalangan pelajar.
“Kegiatan seperti ini bukan hanya rutinitas seremonial, tetapi ruang pembentukan karakter. Remaja hari ini adalah pemimpin masa depan. Mereka harus dibekali bukan hanya dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga akhlak dan integritas,” ujar Yulius.
Program BRUS dirancang sebagai wadah pembinaan remaja usia sekolah agar memiliki ketahanan moral, kecerdasan emosional, dan kesiapan menghadapi tantangan zaman. Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Tomoni Timur turut memberikan penguatan materi keagamaan serta motivasi kepada para siswa agar mampu memanfaatkan masa muda secara produktif.
Sementara itu, Kepala UPT SMA Negeri 10 Luwu Timur, Imam Sopi’i, mengapresiasi kehadiran Camat Tomoni Timur dalam kegiatan Amaliah Ramadhan tersebut. Ia menilai kehadiran camat merupakan bentuk nyata kepedulian Pemerintah Kecamatan terhadap pembinaan spiritual di lingkungan pendidikan, khususnya di SMAN 10 Luwu Timur, terlebih di bulan suci Ramadhan.
“Kami sangat mengapresiasi dukungan dan perhatian Pemerintah Kecamatan Tomoni Timur. Ini menjadi motivasi bagi sekolah untuk terus memperkuat pendidikan karakter dan spiritual siswa,” ungkap Imam Sopi’i.
Amaliah Ramadhan sendiri merupakan agenda rutin tahunan di SMAN 10 Luwu Timur setiap bulan suci Ramadhan. Seluruh siswa mengikuti pembinaan sesuai dengan agama masing-masing. Siswa beragama Islam mendapatkan bimbingan keislaman seperti tadarus, kajian, dan penguatan akhlak. Sementara siswa Kristen, Katolik, dan Hindu juga dibimbing oleh guru agama masing-masing dalam kegiatan pendalaman iman dan pembentukan karakter.
Pendekatan inklusif ini menjadi cerminan semangat toleransi dan kebersamaan di lingkungan sekolah. Seluruh peserta didik dibina dalam koridor keyakinan masing-masing, namun tetap dalam satu semangat membangun generasi yang berakhlak, berintegritas, dan berdaya saing.
Melalui kolaborasi antara pemerintah kecamatan, KUA, dan pihak sekolah, diharapkan program pembinaan seperti BRUS mampu melahirkan remaja Tomoni Timur yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kokoh secara spiritual dan sosial benar-benar menjadi remaja hebat yang siap menyongsong masa depan cerah. (***)












