Luwu Timur, Chaneltipikor.com – Langkah konkret dalam menjaga eksotisme serta kelestarian alam terus ditunjukkan oleh PT Citra Lampia Mandiri (CLM). Menyambut momen World Cleanup Day, perusahaan tambang nikel ini menginisiasi aksi kolaboratif pembersihan sampah plastik sekaligus transplantasi terumbu karang di Pulau Bulu Poloe, Desa Harapan, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur.
Rangkaian kegiatan peduli lingkungan yang berlangsung selama dua hari (27-28 September 2026), ini melibatkan ratusan personel gabungan dari berbagai elemen masyarakat dan instansi.
Tampak hadir di lapangan unsur TNI Angkatan Laut, Polairud Polres Luwu Timur, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparmudora) Luwu Timur. Aksi ini juga diperkuat oleh kalangan jurnalis, Pramuka, Karang Taruna, mahasiswa UIN Palopo dan Unismuh Makassar, serta sejumlah organisasi kemasyarakatan lainnya.
Sejak Sabtu pagi hingga sore, tim gabungan menyisir sepanjang garis pantai Pulau Bulu Poloe untuk mengumpulkan limbah yang didominasi oleh sampah plastik. Hasilnya, puluhan kantong berukuran besar berisi sampah plastik berhasil diangkat dari kawasan pesisir pulau yang menjadi salah satu ikon wisata kebanggaan Luwu Timur dan Tana Luwu tersebut.
Manager External PT CLM, Fauzi, menegaskan bahwa menjaga kelestarian Pulau Bulu Poloe merupakan tanggung jawab moral bersama. Pulau ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan aset historis dan kebanggaan wilayah Tana Luwu yang harus dipertahankan keasriannya.
“Pulau ini adalah ikon Luwu Timur dan Tana Luwu yang menyimpan banyak nilai sejarah serta cerita. Kita semua memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keberlangsungannya. Harapan kami, aksi lingkungan seperti ini tidak berhenti sampai di sini saja, tetapi terus berlanjut secara berkelanjutan,” ungkap Fauzi dalam sesi sharing session pada Sabtu malam.
Fauzi juga menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang telah mencurahkan tenaga dan kepedulian dalam aksi bersih-bersih ini. Ke depan, PT CLM berkomitmen untuk merangkul jaringan komunitas yang lebih luas agar dampak positif terhadap lingkungan hidup makin optimal.
Ancaman Darurat Sampah dan Tantangan Sektor Pariwisata
Di tempat yang sama, Pemerhati Lingkungan, Suaib Laibe, memaparkan data krusial terkait kondisi tata kelola sampah di Kabupaten Luwu Timur. Menurut catatan lingkungan, volume produksi sampah di daerah ini mencapai sekitar 58 ribu ton per tahun atau setara dengan 160 ton setiap harinya.
Dari total harian tersebut, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Ussu menyerap sekitar 60 ton, TPA Inalahi Sorowako menampung 40 ton, serta sekitar 10 ton berhasil dikurangi melalui skema pengolahan di bank sampah dan aksi komunitas peduli lingkungan.
“Saat ini baru sekitar 5.000 ton per tahun yang pengelolaannya berjalan maksimal. Selebihnya menjadi tantangan besar yang memerlukan perhatian serta komitmen kolektif. Jika persoalan ini dibiarkan tanpa penanganan serius, wilayah perairan dan laut kita terancam menjadi penampungan sampah. Mari kita stop membuang sampah plastik ke laut,” tegas Suaib.
Ia juga menyoroti potensi penumpukan limbah di destinasi wisata. Suaib meminta Dinas Pariwisata tidak hanya fokus pada pembangunan dan penyediaan sarana-prasarana fisik semata, tetapi juga memprioritaskan skema pengelolaan sampah yang terintegrasi di kawasan-kawasan wisata.
Melalui sinergi antara swasta, pemerintah daerah, aparat keamanan, akademisi, dan elemen masyarakat ini, aksi di Pulau Bulu Poloe diharapkan menjadi pematik kesadaran publik untuk menjaga kebersihan pesisir serta laut di Luwu Timur secara konsisten. (Syam)












